Postingan

Menampilkan postingan dengan label Indonesiaku

Perang Imaji...

Gambar
Dalam kasak kusuk situasi kampanye apapun... saya kira sudah bukan eranya menjatuhkan orang lain dengan cara menjelek-jelekkannya sembari mengangkat diri yang hebat dengan penuh kesombongan.  Sudah banyak realita yang dapat dijadikan cerminan selama ini... apakah itu terjadi dalam situasi politik kampus, daerah, nasional bahkan sampai ke lintas negeri di seantero jagat ini, justru seseorang yang telah dijelekkan tersebut yang akan memetik indahnya sebuah kemenangan dari kesabaran melawan sebuah kesombongan, sebabnya...? Wallahu 'alaam bishshowaab... Sebut saja bu Megawati saat bergabung ke PDI namun tertolak sehingga terbentuklah PDIP dan bu Mega menjadi ketuanya. Sejak itu bu Mega menjadi booming besar namanya meski olok2an baginya tiada henti, deras mengucur bak hujan yang menghasilkan banjir bandang dan pada akhirnya beiau menjadi pemimpin negeri ini... ^_^ Bagaimana dengan pak SBY?  Imaji dengan penuh prasangka macam-macam mulai dari status keluarga hingga ke masalah SARA ...

Sosok Perempuan bernama "Sri Mulyani Indrawati"...

Gambar
Sebagai orang awam tentang "dunia Politik dan Ekonomi", aku tak pantas dan tak berhak untuk berbicara tentang kedua jenis "dunia" tsb. Aku hanya ingin menuliskan sedikit apa yang ada dipikiran tentang sosok seorang perempuan bernama Sri Mulyani sebatas pengetahuan yang ada, di luar pengetahuan dan sudut pandang orang lain. Sri Mulyani, seorang pakar ekonomi dan dosen di Fak. Ekonomi Universitas Indonesia, namanya mulai terekam dalam memoriku, kala nuansa reformasi sedang menghangat menyelimuti pola pikir bangsa setanah air ini. Terlihat beliau begitu digaungkan sebagai seorang perempuan cerdas, briliant, begitu sering diundang di sana sini, secara formal maupun informal, di kampus dan forum kemahasiswaan,di forum antar LSM, di beberapa channel TV dll, sekedar untuk memberikan gambaran dan komentar tentang apa serta bgm prediksi ekonomi negara di tengah carut marutnya sistem perpolitikan dan krisis ekonomi yang melanda bangsa ini dalam beberapa tahun, yang sam...

Boneka dan Usia...

Gambar
Ada yang menarik setelah seringkali melihat dan mengamati sebagian pola laku mahasiswi di kampus saya selama ini, termasuk mahasiswi yang berangkat ke lokasi KKNnya atau pulang pergi Mudik ke/dari kampungnya. Mereka adalah anak perempuan yang sudah berusia k.l 18-23, tahun, namun mereka masih setia memeluk boneka-bonekanya kemana-mana. Apakah karena mereka tidak punya adik teman bermain selama ini? Atau apakah karena mereka masih cengeng? Atau karena??? Sori... Mungkin karena saya tidak suka bermain boneka, jadi heran sendiri melihat hal seperti itu... ^_^ Yaaah... Melihat mahasiswi bepergian bersama bonekanya, jadi ingat kenangan k.l 24 tahun yang lalu... saat saya penelitian Tugas Akhir S1 di Taman Mini  Indonesia Indah (TMII). Kebetulan di sana banyak penjual boneka, dan lumayan murah namun kualitasnya lumayan baguslah. Saya membeli 2 boneka (beruang dan Panda) yang besar. Abang penjual boneka yang rada ceriwis itu bertanya, " untuk siapa? " Saya menjaw...

QUICK COUNT: Bagaimana cara kerjanya ?

Gambar
Sudah beberapa periode pemilu, suara hasil pencoblosan dihitung dengan menggunakan metode "Perhitungan Cepat" atau dikenal sebagai metode " Quick Count (QC)", namun sayangnya saya belum pernah tertarik untuk mengikuti hasil perhitungan tersebut. Selain karena tidak paham juga karena saya lebih banyak bersikap apatis dengan para calon yang diusung. Mengapa apatis? Tentu saja saya punya beberapa alasan, salah satunya karena tidak ingin merusak/menyakiti hati sendiri... ^_^     Note ini saya copas dari bruder Dedy Dwi Prastyo , seorang teman dosen statistik dari ITS yang sementara kuliah di Berlin untuk memperdalam kepakarannya. Dengan adanya catatan sekaligus penjelasan singkat dan praktis ini, tiba-tiba saja saya jadi berminat dan mengetahuinya lebih dalam. Meski bukan bagian dari ilmu saya, namun minimal bisalah sedikit menjelaskan ke anak2 sendiri tentang bagaimana metode "QC" tersebut... ^_^ +++++ 1. Quick Count (QC) disebut j...

Pilihanku... Rahasiaku...

Gambar
Pagi ini sy baru tahu jika dapat undangan untuk mencoblos... namun koq ada selembar undangan dengan nama yang tidak dikenal ikut masuk ke rumah... sementara beberapa tetangga, tidak menerima undangan... KACAU NIE... bisa jadi ada yang dobel mencoblosnya. Alhamdulillah, tidak perlu terlalu banyak dan lama dalam melangkah, sudah sampai di TPS... antrian sebentar lalu dapat giliran...  mantap, sdh tersalurkan hasrat yang terpendam ... semoga beliau2 direstui olehNya... ^_^ "Kasi tau ga' yaa?" jawabku ketika anak dan ponakanku bertanya nomer berapa dan siapa yang saya pilih, "Pilihan itu rahasia, jika diberitahu bukan lagi rahasia dong" tambahku... ^_^ Menurut saya, mungkin saat ini adalah salah satu cara untuk memberi contoh bagaimana memegang sebuah rahasia, namun di satu sisi memberikan " clue (petunjuk)" untuk mengarahkan agar bisa memilih seseorang/sesuatu mana yang baik dan layak. Bukan dengan cara  seperti mendengar, membaca ...

Siapa Teman Setia? Siapa Teman Semu?

Gambar
Ikut tertegun sejenak setelah membaca ini http://m.tribunnews.com/nasional/2014/06/20/tiba-di-tanah-air-sby-tertegun-ditinggal-para-menterinya . Semoga artikel ini tidaklah benar, namun jika benar saya hanya berharap jika pak SBY diberi kesabaran dan legowo... Alhamdulillah jika beliau lebih cepat mengetahui siapa2 mereka saat ini. ^_^ Bukan sesuatu yang aneh jika seseorang yg bakal turun atau dipensiunkan dari jabatannya akan memiliki kepekaan rasa yang sangat tinggi dengan perilaku orang2 yang berada di sekitarnya selama ini. Mungkin saja sensitifitas yang tinggi itu disebabkan oleh adanya rasa ketakutan diri akan tidak dihargai lagi, tidak berguna lagi atau karena rasa keinginan yang selama ini selalu ingin dihormati bakal hilang... bagian dari gejala " post-power syndrome " kah itu? Kembali mengutip sebuah percakapan dari baginda khalifah Ali bin Abu Thalib r.a dengan seorang sahabat, "ya Amirul Mukminin, siapakah sahabat anda?", "saya tidak t...

Cukup menjadi Penonton...

Gambar
Memang enak jadi penonton, utamanya jadi penonton gratis dengan sekian nilai plus plus bersamanya. Namun untuk menyimak kampanye2 yang digelontorkan dari para tim suksesi dan pendukung kedua pasangan kandidat capres-cawapres ternyata juga butuh waktu yang banyak, di satu sisi menarik karena mampu membolak-balikkan hati dan logika. Bagi saya, untuk para pendukung dan tim suksesi... usahlah terlalu gusar dalam menanggapi sebuah artikel miring jika itu memang tidak benar apalagi jika harus menanggapinya dengan sebuah artikel miring (negatif) ke capres lainnya. Yakinkanlah diri jika capres yang didukung itu memang layak dan pas untuk diusung, tidak usah mengoyak-nguyik kelayakan capres lainnya. Aturlah strategi yang jitu dalam memperlihatkankan kelebihan2 dan kelayakan capres dukungan kita. Karena simpati para penonton atawa penyimak akan terfokus pada kelebihan dan kepantasan dari sang Capres dengan tanpa menjual kejelekan capres lainnya. Aneh rasanya jika kita te...

Trik Contek2an...

Gambar
Ternyata saya sudah ikut kecolongan di semester ini, dari sekian kelas dengan beberapa mata Kuliah yang saya ampu sendiri ataupun bersama teman tim dosen, 5 kelas sudah selesai diberikan evaluasi. Hasilnya... menunjukkan terdapat hasil ujian yang sama antar mahasiswa k.l 60%... kalau jawabannya benar sih ga' apa-apalah, tentu sangat menggembirakan. Namun riilnya, hasilnya sangat mengecewakan dan menyesakkan, karena justru sama dalam jawaban2 yang salah... sedih dan prihatin. Di setiap ujian yang telah saya berikan, saya duduk manis di depan mahasiswa, melirik ke sana ke situ...sesekali saya berjalan di antara mereka untuk mengedarkan absensi dan blanko nilai mereka. Jika ada ada yang berisik pasti ditegur, setelah ditegur mereka akan berhenti sendiri sambil tersenyum simpul dgn mata aneh yang bergerak liar entah karena apa? Setelah memeriksa hasil ujian2 mereka (mhs2ku), saya memperlihatkan ke seorang teman sekaligus untuk mendiskusika...

Prihatin Sendiri...? ^_^

Gambar
Masih terpikir pada 2 org ibu yang bergegas akan ke bandara St. Hasanuddin namun memilih naik pete-pete (angkot) meski waktu yang dimiliki hingga take off , tersisa 1 jam 30 menit, sementara posisi mereka saat itu masih di simpangan Tugu Adipura Tello. Kedua ibu tersebut setengah memaksa ke pak sopir agar dipercepat laju angkotnya karena takut terlambat. Pak sopir membantah bila hal itu tdk bisa dilakukan karena dia harus kejar setoran sehingga harus sekali-sekali berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pak sopir memberi saran, "kalo mauki cepat bu, carterki saja sekalian pete-petenya bu atau naik taksi ki", namun ibu2 tersebut menolak karena katanya mereka hanya ingin naik angkot sampai di Daya.  ckckckc... saya geleng-geleng kepala melihat keberanian ibu2 tersebut untuk menghemat pengeluaran transportnya daripada memikirkan keterlambatannya dan ditutupkan loket check in. S etahu saya, pada jam 06 sore (maghrib) seperti ini, dengan padatnya kendaraan di ...

Rasis, Primordialis, atau sejenisnya... akankah Tetap Ada?

Gambar
Seorang manusia yang terlahir ke dunia... tentu tidak pernah tahu akan menjadi bangsa, suku, agama dan status sosial seperti apa dirinya. Namun yang pasti mereka terlahir karena kehendak DIA sang pencipta, apapun alasanNya... hanyalah DIA yang Maha Mengetahui. Seiring kehidupan manusia tersebut beranjak dewasa, tentulah dia tidak akan bisa melepaskan simbol/karakter bangsa, suku, agama dan status sosial yang telah melekat pada dirinya saat terlahir, ditambah lagi dengan legalisasi harus memiliki sebuah sertifikasi pengakuan dari berbagai instansi, mulai dari akte lahir sampai dengan passport jika akan meninggalkan negaranya. Soalan ini bukanlah sebuah masalah bagi seseorang, manakala dia bisa melakukan aktifitas bebas merdeka sesuai ketentuan aturan yang berlaku, namun yang menjadi masalah jika orang-orang lain yang membuat aturan yang tidak tertulis dengan beragam alasan dan dibakukan dengan istilah "sebagai sebuah kebiasaan", "sudah seharusnya...

Butuh Revolusi Mental..?

Gambar
Naik Ojek... adalah bagian dari aktifitaskuu sehari-hari jika akan pergi-pulang ke kampus-rumah. Seperti biasanya saat akan kembali ke rumah, tidaklah sulit untuk menunggu ojek2 tersebut, karena mereka sudah mangkal dan antrian di sepanjang jalan halaman depan FT. Berbeda dengan saat masih di rumah, tukang ojek harus dipanggil dulu by phone , yaah butuh sedikit pulsa + waktu.... tp ini lebih lumayanlah karena bila diitung-itung bisa ngirit ongkos berbentor ria bila tidak dipanggil... ^_^ Untuk yang ke sekian kalinya saya komplen dengan tukang ojek (??), pasalnya karena si tukang ojek melawan arah arus LaLin (baca:Lalu lintas). Sejak dari dalam kampus tepat di depan Fakultas dia sudah tancap gas membelokkan motornya melawan arah arus kendaraan lain dengan tanpa mau mendengar ocehan saya bila itu salah. Sesampainya di ujung gerbang pintu I kampus, tiba-tiba dia langsung menyeberang dan membelokkan motornya ke arah kiri melawan arah LaLin dari kiri... dan sesaat kemud...

Kinerja Guru dan Dosen bedanya dimana...?

Gambar
Saya mengutip kalimat seorang teman dari warung sebelah, " seorang guru SD pernah bilang sama saya, kok besarnya dana serdos yg diterima dosen sama dengan besarnya sertifikasi guru yg diterima guru SD pada glongan yang sama, Apakah kinerja dosen sekarang ini oleh PEMERINTAH dianggap sama dengan kinerja guru SD??"  Membaca pertanyaan ini, kembali mengingatkan saya pada 20 tahun yang lalu, saat ibu bapak saya naik haji dan mereka membuatkan surat kuasa untuk mengambilkan gaji mereka, karena saat itu belum ada sistem transfer langsung ke rekening gaji... dan alhasil, akhirnya saya tahu berapa besar jumlah gaji ibu dan bapak + potongan2nya... ^_^   Setelah gaji keduanya sudah ada di tangan, saya diharuskan oleh ibu bapak untuk mengelolanya dan digunakan cukup dalam 40 hari selama mereka bepergian. Di saat itulah saya baru sadar jika selama ini gaji mereka sangat tidak masuk akal (menakjubkan) untuk membiayai dan memenuhi kebutuhan kami anak2nya yang berj...

Bagaimana Kapasitas Diri...?

Gambar
Baca link ini https://id.berita.yahoo.com/mendiknas-pamitan-di-hari-pendidikan-nasional-032853018.html tentang pak "Mendiknas" Nuh pamitan sekaligus meminta maaf atas kekurangan beliau saat menjadi MenDikNas... jadi trenyuh juga membacanya... sambil membatin memaafkannya, jadi tersadar kembali akan celoteh, curhat serta gerutuan saya beserta teman-teman sejawat dalam beberapa tahun ini tentang bagaimana aturan dan kebijakan yang harus dijalankan. Benar adanya, jika seringkali kita cepat menilai tanpa mengevaluasi diri sesaat, sebesar apa kemampuan dan kualitas diri yang telah diperbuat untuk komunitas dan ruang lingkup sendiri. Terlalu banyak energi  yang dihabiskan untuk mengomentari sekitar sementara kita tidak punya waktu membenahi kekurangan yang ada. Ada kalimat teman yang saya kutip saat menjawab..." Bagi saya lebih baik dianggap tidak bisa apa-apa namun tetap bekerja dan terus berupaya daripada kita menghabiskan waktu dan energi hanya untuk men...

Kebobrokan Media di Indonesia...?

Gambar
Untuk kali pertama sy tertarik untuk meng CoPas sebuah link yang pada dasarnya kurang paham dan tidak mengetahui kebanarannya yang pasti... itung2 sekalian menjadi referensi dan aman tersimpan dlm kotak tulisan2... +++++ Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO. Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia w...

Ternyata 1 Ons tdk = 100 gram

Gambar
Waduuh, ternyata 1 Ons = 100 gram  yang dipahami sekian pulahan tahun di kepala adalah sebuah pemahaman yang salah, latah turun temurun bahkan menjadi AJARAN SESAT bagi anak didik dan anak2 sendiri, hiiks...Benarkah? Coba tengok link-link berikut ini http://pustakafisika.wordpress.com/2012/09/02/ternyata-1-ons-bukan-100-gram/ dan http://satriabms.wordpress.com/2013/09/26/1-ons-bukan-100-gram-pendidikan-yang-menjadi-boomerang/ ... http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/15/1-ons-berapa-gram-525599.html atau bila merujuk bahwa 1 Ons= 100 gram itu bukanlah standar internasional namun warisan dari Zaman Belanda http://dayoha.blogspot.com/2009/03/1-ons-100-gram.html . Sungguh semakin membuktikan bahwa realita yang ada selama ini, kita hanya selalu cenderung mengikut pada keumuman suatu hal tanpa harus mengetahui dasar keikutsertaan kita. Ada ketakutan berbeda dari yang lain, pun meski MUNGKIN saja sudah tahu ada alasan yang kuat untuk berbeda dari keumuman yang ada. Dari...

Semoga tidak Sekedar "Euforia"...

Gambar
Beragam kalimat ucapan selamat dan simpati dari postingan2 teman dan News yang lewat di beranda untuk Tim Bola " Garuda Muda U19 " atas kemenangannya yang telah menjuarai Liga AFF ( Asean Football Federation ) atau Federasi Sepak Bola Asean dengan mengungguli tim Bola dari Negeri Vietnam dengan score 7-6 (adu pinalti), membuat sy penasaran untuk membaca berita2nya. Ada sedikit rasa menyesal karena tidak sempat menontonnya semalam... :( Luapan-luapan kegembiraan yang tersirat dari ragam ucapan postingan tersebut, mengingatkan kembali, ucapan2 selamat yang sama telah diterima oleh Timnas Garuda Muda U23 di tahun 2011 saat mengalahkan Timnas Kamboja 6-0 lalu, dan menjadi juara runner up dari Malaysia. Tidak tanggung-tanggung bahkan bapak kepala negara ikut menontonnya langsung dari tribun VIP. Dan setelah kegembiraan yang serasa memuncak  saat itu, kini nyaris tak terdengar lagi luapan kegembiraan atawa ucapan selamat untuk mereka. Bagaimana kondisi dan nasib ...

Mau Punya Mobil...?

Gambar
Suatu hari seorang teman mengeluh tentang lelahnya dia bila  jalan macet yang dilaluinya  sepanjang 3 km dengan waktu tempuh k.l 2 jam. Saya yang berusaha menghiburnya agar sabar, malah diejek balik... "kamu sih enak, duduk2 aja bisa sambil tutup mata...", lho koq malah dicecar bgt?  dengan spontan saya membalasnya... "yah kalau ga mau capek, jangan bawa mobil dong, naik angkot aja atau KRL/bis kota", "itulah resikonya, lha sudah tahu ini kota macet masih juga membawa kendaraan sendiri", kataku...  ^_^ Dapat kiriman link dari pak Eko untuk menyimak sebuah debat di youtube, "Debat antara Mobnas Vs mobil Murah Ramah Lingkungan"  https://www.youtube.com/watch?v=wJDmUHTd2yU . Rame juga diskusinya eh debatnya... Saya malah bingung  simpulan terbaik apa yang dapat ditarik, bahkan rasanya tidak ada simpul yang menarik, semua mempertahankan pendapatnya dengan sejumlah alasan. Waah kelihatannya mereka adalah utusan2 cerdas yang sudah diper...

Anak Lorong...

Gambar
Saya terlahir dan besar sebagai anak Lorong... namun berpindah-pindah lorong seiring tuntutan kehidupan. Sekedar kenangan... sejak lahir hingga batita tinggal di rumah kakek  di Lorong Maricaya Utara, tepatnya di belakang Pasar Maricaya atau jalan Domba, kemudian saat balita hingga tumbuh dan bermain di Lorong Onta pasar Maricaya Selatan (rumah sewa). Setelah rumah bapak selesai, kami pindah ke rumah dalam lorong 73-75 jalan Veteran Selatan. Dan terakhir, mungkin karena kondisi kehidupan di lorong tersebut sdh tidak kondusif untuk anak2 ibu bapak yang banyak lalu pindah ke rumah baru kami di sebuah lorong dalam kompleks P&K  jl. Mon. Emmy Saelan saat saya naik kelas 2 SMP ... kompleks tersebut merupakan perumahan BTN pertama yang ada di Makassar... rumah cicilan untuk para PNS... ^_^ Tren "Anak Lorong" untuk saat ini begitu menggaung namanya... seiring kemenangan sementara seorang kandidat cawalkot Makassar yang dikenal sebagai tim pasangan DIA. Dan seper...

Utang versi Lintah Darat...

Gambar
Gilaa... katanya memberi pinjaman lunak, namun yang menjadi pengelola (mulai dari konsultan dan kontraktor) harus mereka yang menentukan, bahkan pengelolanya dari mereka sendiri. Belum lagi pengadaan barang dan jasa harus mengikuti aturan mereka. Sementara uang pinjaman, kita harus mengembalikannya dalam keadaan utuh + bunga2nya. Katanya, "bila tidak setuju, tidak apa-apa, tidak usah diproses".  Wah, inilah yang namanya LINTAH DARAT. Seyogyanya dengan berutang, hasrat dan keinginan untuk membangun infrastruktur/fasilitas di semua lini tentunya bisa terpenuhi. Namun kenyataannya utang semakin menumpuk sementara fasilitas yang diidamkan tdk sesuai dengan yang diinginkan. Mengapa demikian? Karena nilai uang dari hasil pinjaman tersebut hanya k.l 30% yang mampu diserap alias termanfaatkan oleh kita. Kenyataannya, semua perencanaan yang diajukan tidak sesuai dengan apa yang bakal diperoleh. Pantaslah jika negeri ini jatuh miskin, membangun negeri dengan ketergan...